Lain-lain

Pendidikan Gunung Hutan 89

Lapangan Sempur

Setelah selama satu jam diangkut dengan truk ABRI dari halaman SMA 6 Blok M, sekitar pukul 11 malam, akhirnya kami tiba di Bogor dan berhenti di lapangan Sempur. Semua dari kami tidak akan lupa mengenai tempat yang satu ini. Lapangan Sempur merupakan lapangan rumput yang luas. Di sana lah kami memulai Pendidikan Gunung Hutan atau PGH, Desember 1989.

Semua turun dari tronton dan berbaris rapi. Kami semua tidak tahu apa yang akan terjadi. Semua berpikir kita akan menginap dan membangun tenda di lapangan itu. Komandan Lapangan (Danlap) Tumbur HP Nainggolan, menginstruksikan kami untuk membongkar ransel. Kami mengeluarkan semua barang dari ransel dengan semangat dan meletakkannya di atas ponco masing-masing yang telah kami gelar lebar-lebar. Setelah semua barang tertata rapi di atas ponco, Danlap mulai teriak menyebutkan satu per satu barang-barang bawaan kami. Kami harus menunjukkan dan mengangkat tinggi-tinggi barang-barang yang disebut oleh Danlap. “Misting….. Senter….Parafin…. Kompor Komando…. Golok…. Veldpless…. Minyak Komando…. Sarung Tangan…. Selimut….. Ponco…. Balaclava…. Kompas….” dan seterusnya hingga kira-kira lebih dari 20 jenis “barang wajib” disebutnya.

Sebagian besar dari kami dapat menunjukkan barang-barang tersebut yang memang sudah kami persiapkan 2 minggu sebelumnya. Hanya beberapa yang panik karena memang tidak bawa dan tidak mengikuti checklist beberapa hari sebelumnya. Atau bingung karena lupa tempatnya akibat terselip diantara barang-barang dan makanan bawaan yang jumlahnya bisa untuk hidup selama 1 minggu lebih tanpa bantuan sedikitpun dari siapapun. Tak ayal lagi, ransel yang kami bawa beratnya mencapai 15-20 kg per orang dengan ukuran yang maksimal, hingga tidak ada tempat lagi untuk dapat menyelipkan kotak korek api atau benda kecil lainnya.

Instruksi selanjutnya membuat kami kaget, terguncang dan panik…”Packing kembali!!”. Tadinya kami berpikir akan menginap di lapangan ini, karena disuruh membongkar semua yang kami bawa. Ternyata dugaan kami salah, Lapangan Sempur hanya tempat sementara untuk mengecek kelengkapan bawaan kami. “Sial, hanya check list kedua”, gumamku. Kami masukkan kembali barang-barang yang barusan dikeluarkan alias packing ulang. Menurut Dedi Agus, instruktur senior kami, “packing is an art” karena membutuhkan kesabaran, ketelitian dan ketrampilan sehingga lebih indah dan tidak berat sebelah. Selain itu dibutuhkan pengetahuan mengenai gravitasi, bentuk tubuh kita, serta anatomi barang dan ransel yang kita bawa. Tetapi semua yang telah dipelajari menjadi buyar. Kesabaran kami tidak miliki saat ini. Saat kami packing sebelum berangkat pun, banyak barang yang tidak bisa masuk, karena terlalu banyak. Susah payah kami memasukkan barang-barang tersebut ke dalam ransel, walaupun dulu dalam kondisi tenang dan di rumah. Sekarang kami harus memasukkannya kembali dalam waktu yang terbatas dan diawasi oleh instruktur garang.

Keringat mengucur deras di malam yang seharusnya dingin. Kami panik, banyak barang yang belum masuk, dan takut tertinggal.  Kami menggunakan kaki untuk menginjak dan menekan barang-barang dalam ransel agar lebih padat. Akhirnya dengan susah payah, semua barang masuk dan ransel saya berhasil tertutup, tetapi dengan bentuk yang tidak rata, alias benjol-benjol di beberapa bagian.

Walaupun demikian, saya masih untung. Banyak teman lain belum berhasil memasukkan kembali barang-barang yang tadi dibawanya dalam ransel tersebut. Bahkan Yusron dan Mahdi Arab kena damprat Febri Tim Tata Tertib, karena sebagian barang hanya mereka diikatkan di bagian belakang ransel mereka. Di belakang ransel Yusron yang relatif kecil, menggantung bungkusan plastik yang berisi Indomi, yang sudah tidak muat lagi. Sementara di ransel bertanduk  milik Mahdi terkait misting bulat (semacam panci susun untuk memasak, biasanya bermerk ABRI) yang terbungkus bahan tenda pleton warna hijau. Saking kesalnya, Febri berkelakar dengan menyuruh mereka untuk beraktifitas bersama, “masak aja lo berdua!”. Semua instruktur dan panitia yang mendengar terpaksa menahan tawa. Saat itu ketawa bukan pilihan. Bahkan Tatib berhak menegur panitia atau instruktur yang tertawa di depan siswa, apalagi bagi siswa yang tertawa, langsung dihukum di tempat.

Sekitar jam 12 malam, barisan siswa sudah mulai rapi dengan ransel besar dipunggung. Di depan barisan siswa berjajar manusia-manusia kekar dengan ransel yang tak kalah besar, jumlahnya sekitar selusin. Kami baru tau kalau mereka adalah anggota Tim Expedisi Makalu Himalaya yang baru saja dilatih fisik oleh Kopassus dan akan berangkat tahun depan. Dan mereka mendampingi kami untuk long-march malam itu sambil berlatih fisik. Menurut saya, tujuan utama mereka bukan latihan, melainkan untuk menjatuhkan mental kami. Kami masih belum sadar apa yang akan terjadi, long march? kemana? berapa jauh? tidak ada siswa yang tahu. Saking tegangnya, kantuk tidak terasa lagi.

Diceritakan oleh Tr 024/89
Kontribusi cerita tentang “Misting dan Indomi” oleh Tr 055/89

Hadap-Hadapan!!

Jika kami atau salah satu dari kami melakukan kesalahan, maka kesalahan itu menjadi tanggung jawab satu angkatan, sehingga kami semua berhak menerima hukuman. Salah satu hukuman yang paling umum adalah “hadap-hadapan” lalu tampar-tamparan. Sebenarnya ini lebih baik ketimbang harus roling dengan ransel di punggung. Dari segi fisik jauh lebih ringan. Saat Instruktur teriak “Hadap-Hadapan!!”, dengan segera tiap siswa mencari pasangan yang terdekat dan sebisa mungkin yang paling lemah, untuk menghindari sakit yang berlebihan.  Walaupun seringkali juga, justru saya yang menjadi pihak yang lemah.

Tapi tidak semuanya sependapat dengan saya, bahwa hukuman hadap-hadapan lebih baik dari yang lain. Salah satu rekan seperjuangan saya, termasuk yang sangat tidak suka hukuman ini. Saya pernah sekali berhadapan dengannya, dan saya menjadi kasian. Sebagian besar mukanya ditumbuhi jerawat yang segar dan ranum. Dengan tamparan yang lemah sekalipun, beberapa jerawat jadi pecah. Kalo instruktur jauh, saya mengurangi kekuatan tamparan saya, atau menghindari sebisa mungkin jerawat yang mau pecah. Saat dimana saya berhadapan dengannya adalah hari kedua PGH, tak terbayang bagaimana dia menjalani 3 hari selanjutnya.

Daniel Lapian

Sosoknya yang tinggi besar, dipercaya oleh tim panitia untuk mendampingi Febri sebagai Tim Tata Tertib (Tatib). Tidak seperti Febri, Daniel Lapian tidak banyak bicara. Tapi justru itulah yang menjadi momok bagi kami ke 61 siswa calon Trupala selama 5 hari yang sangat berat. Ditambah lagi, tangannya hampir memenuhi mukaku yang saat itu hanya berbobot 45 kg.

Sialnya, saat hari ketiga dimulai, jumlah siswa laki-laki menjadi ganjil. Saya tidak ingat mengapa. Dengan jumlah yang ganjil, salah satu dari kami pasti tidak mendapatkan pasangan dan harus berhadapan dengan salah satu tim Tatib. Akibatnya, saat Tatib teriak “Hadap-Hadapan!!”, semua siswa laki-laki menjadi kalang kabut secepatnya mencari pasangan. Sial, saat itu saya terlambat mengepak ransel saya, karena saya mendapat giliran terakhir saat sortir makanan untuk survival. Dan akhirnya saya yang berbadan mungil harus berhadapan dengan Daniel Lapian yang perasaan saya segede gorila saat itu. Hati saya berkecamuk.

Saat hadap-hadapan, kita diharuskan menampar sekencang-kencangnya, kalo tidak, Instruktur akan memberi tahu bagaimana cara melakukannya dengan baik dan benar, dan pipi kita sebagai tempat prakteknya. Akhirnya saya kuatkan hati saya. Febri teriak “Satu!”…Glepokk..saya tampar sekuat-kuatnya muka Daniel Lapian. Dia terlihat agak kaget dan sedikit meringis dengan tamparan pertama saya. Tapi situasi itu hanya sekejap, detik selanjutnya saya merasakan tangan besar menyambar pipi kiri saya dan membuat badan saya limbung. Saya berusaha mempertahankan posisi berdiri dengan ransel lebih dari 18 kg di punggung. Pusing… tapi saya harus kembali siap dengan itungan selanjutnya. “Dua!!” teriak Febri. Plokk!! gaplokan tangan kiri saya mendarat di pipi kanan Daniel Lapian. Kali ini dia tidak terlihat kaget. Selain karena sudah belajar dari sebelumnya, gaplokan tangan kiri saya tidak sekuat tangan kananku.

Tidak terlalu kuat, tapi juga tidak pelan. Saya berharap yang sama darinya. Tapi tak disangka, balasannya sama kerasnya dengan yang pertama. Saya limbung ke kiri. Kucoba bertahan kembali ke posisi tegak, Dalam hati aku berpikir…sepertinya Daniel Lapian marah nih…gawat kalo diterusin kepalaku bisa tambah pusing. Aku diam…hitungan ketiga sudah dilontarkan…aku diam. Daniel bertanya; “kenapa?”. “Trupala, pusing”, jawabku dengan agak tegas (kami diharuskan menjawab dengan awalan “Trupala” dan dengan tegas). Aku tidak tau apa yang bakal terjadi selanjutnya…hanya pasrah. Tiba-tiba tangan besarnya menepuk pundakku ambil berkata, “ya sudah..kuatkan fisikmu”. Hhhh…..lega…. Sementara aku berdiri diam, teman-teman melanjutkan hukuman hadap-hadapan hingga hitungan ke sepuluh.

Diceritakan oleh: Tr 024/89

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: