Ekspedisi

EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bag.1 dari 11)

Prolog: cerita ini adalah sebuah catatan harian Ihsan Kusasi (http://ihsankusasi.wordpress.com), tr.002/85, yang bersama Tim Trupala melakukan ekspedisi penelusuran gua pada tahun 1988. Disajikan dalam cerita bersambung sebanyak 11 bagian. Selamat membaca bagian 1 (satu) cerita ini:

take nothing but pictures
leave nothing but footprints
kill nothing but time

Akhirnya saat panen padi pun tiba. Mereka, seluruh penduduk pedesaan, mengumpulkan padi hasil panen tersebut di lereng sebuah bukit. Setiap malam padi dijaga, untuk menghindarkan tangan-tangan yang jahil atau tikus-tikus yang centil. Maling yang ditunggu-tunggu memang tidak datang, tetapi kehadiran seorang kakek pada suatu malam cukup mengejutkan para peronda padi. Bukannya kakek tadi mau maling, yang lebih mengejutkan, kakek tadi malah mengeluarkan sebuah potsulat,

“Cepat kalian pindahkan semua padi dari lereng bukit ini, sebelum bumi berguncang”.

Beberapa detik kemudian terdengar suara kentongan tanda panggilan ke seluruh penduduk desa. Malam itu juga mereka bekerja keras memindahkan hasil panen mereka. Tetapi, belum seratus persen dipindahkan, bumi sudah bergoncang dan tanah tempat padi tersebut dikumpulkan amblas puluhan meter ke dalam bumi dengan meninggalkan sebuah lubang yang menganga, berdiameter sekitar 50 meter. Wow… ! Lubang yang sangat besar sekall! Tidak heran kalau penduduk lalu memberinya nama Luweng (lubang) Ombo (besar).

Gua Luweng Ombo terletak di kawasan Karst (daerah kapur batu gamping, dengan ciri-ciri banyak guanya) Pegunungan Sewu yang terbentang sepanjang kurang lebih 80 Kilometer dari Teluk Pacitan, Jawa Timur, sampai muara Kali Oyo, di Selatan Yogyakarta. Lebar kawasan Pegunungan Sewu kira-kira 30 Kilometer, terhitung dari perbatasan dengan Gunung Kidul di Utara sampai pantai Samudra Hindia di Selatan. Tepatnya, Luweng Ombo  terletak di Dusun Petung, Desa Kalak, Kecamatan Donorejo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur.

Peta kuno menyebut kawasan ini dengan nama Puntuk Sewu yang berarti perbukitan seribu. Sesungguhnya nama inilah yang tepat, karena yang disebut gunung di kawasan ini sebetulnya beberapa Dome (rangkaian bukit-bukit yang berbentuk kubah). Tingginya antara 100 sampai 150 meter dari dasar, dan hanya beberapa yang tingginya 450 meter dari permukaan laut.

Pegunungan Sewu sekarang merupakan daerah yang gersang dan kering hampir sepanjanq tahun. Suhu di sekitar tercatat berkisar antara 29 sampai 31 derajat celsius. Di bukit-bukit permukaan gersang tersebut masih dijumpai pohon jati yang kurus dan tidak lagi menghasilkan kayu yang baik. Disamping itu pula terdapat pohon akasia yang merupakan usaha penghijauan yang pernah dilakukan di sana. Hanya di daerah Dolina (dataran rendah di antara bukit-bukit), tanahnya ditanami penduduk dengan padi, jagung, ketela, dan kacang-kacangan. Tidak ada sistem irigasi yang diterapkan di desa ini.

Mengingat cerita di atas dan ditinjau dari Speleologi (ilmu tentang gua), terutama Geospeleologi (dilihat dari gejala geologis), terbenturnya Luweng Ombo dikenal dengan nama Collapse Sink, yaitu runtuhnya atap gua karena proses kimiawi yang mengakibatkan erosi pada dinding batu kapur. Ketika Trupala mengadakan Ekspedisi Kecilnya untuk turun ke dalam Luweng Ombo, runtuhan-runtuhan tersebut masih banyak dijumpai di dasar Luweng Ombo dan membentuk sebuah bukit kecil.

Dari sini dapat disimpulkan bahwa Luweng Ombo bukan sebuah gua Potholing (gua vertikal yang terjadi karena pengikisan air dalam sebuah rekahan di daerah Karst), walaupun untuk memasukinya harus turun vertikal sedalam 110 meter. Dia melainkan sebuah gua Vadose (gua horisontal / sungai bawah tanah) yang mengalami Collapse Sink.

Bentuk dasarnya, dengan diameter antara 134 sampai 176 meter, sangat luas sekali dibanding dengan mulut gua itu sendiri. Hal ini yang menyebabkan Luweng Ombo disebut sebuah Domepit  — sebuah gua yang kalau dilihat dari bawah berbentuk dome (kubah), tetapi dari atas sebuah pit (lubang).

Dari sebagian besar Boelder (batu runtuhan / breakdown yang sangat besar) yang berserakan akibat runtuhnya atap gua, terdapat pula beberapa batu yang sengaja dijatuhkan dari atas oleh penduduk sekitarnya, hanya dengan maksud iseng. Suara gema dari batu yang sangat nyaring, aneh dan cukup menggoncangkan jantung itulah yang menyebabkan penduduk melakukan perbuatan iseng tadi.

Laporan tertua mengenai Luweng Ombo diperoleh dari sebuah kutipan naskah kuno berbahasa Jawa dalam buku I. Th. Maijer, Agustus 1894 berjudul “Javaansche Sagen en Legende”. Dari kutipan tergebut, nampaknya Luweng Ombo sudah lama dikenal dan menimbulkan kesan tersendiri buat masyarakat sekitarnya. Luweng Ombo pada saat itu berfungsi sebagai tempat penyiksaan orang-orang jahat, yang dilempar hidup-hidup dari atas menuju dasar lubang. Tersirat pula dari laporan di atas bahwa dasar lubang Luweng Ombo dihuni oleh binatang-binatang buas dan berbisa.

Tahun 1948, pada jaman pemberontakan komunis, Luweng Ombo dipakai lagi sebagai tempat penyiksaan. Orang-orang komunis yang ditangkap, dilempar hidup-hidup ke dalam lubang. Tetapi tanda-tanda bekas kejadian di atas tidak ditemui oleh peneliti-peneliti terdahulu, juga sampai saat Trupala memasukinya. Hanya sebuah kerangka seekor anjing — yang mungkin terjatuh ketika sedang berlari — yang di temukan oleh Tim Trupala di dasar gua.

Di dasar gua Luweng Ombo kita akan temukan 3 buah lorong: lorong Timur Laut, Barat Daya, dan lorong Utara. Lorong yang terakhir ternyata berhubungan dengan lorong pertama. Dari hasil pengamatan, Vadose yang terjadi berasal dari aliran air yang mengalir dari arah Timur Laut, menyelinap di antara celah-celah di bawah Boelder yang membentuk bukit kecil, dan terus mengalir ke arah Barat Daya. Beberapa tim terdahulu memperkirakan lorong Barat Daya ini akan berakhir di Pantai Selatan. Tapi hal tersebut belum tentu benar, karena pada kenyataannya, belum ada sebuah tim pun yang memasuki lorong Barat Daya sampai ke ujungnya. Hanya sebuah cerita penduduk saja yang mungkin bisa memberikan alasannya….

(bersambung ke bagian 2)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: