Ekspedisi

EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bagian 2 dari 11)

Prolog: cerita ini adalah sebuah catatan harian Ihsan Kusasi (http://ihsankusasi.wordpress.com), tr 002/85, yang bersama Tim Trupala melakukan ekspedisi penelusuran gua pada tahun 1988. Disajikan dalam cerita bersambung sebanyak 11 bagian. Selamat membaca bagian 2 (dua) cerita ini:

Catatan: karena ekspedisi ini tidak memiliki dokumentasi foto, atau bisa dibilang gagal dari sisi dokumentasi — tahun 1988 saat itu belum ada kamera digital — maka foto pada bagian 2 ini mengambil dari http://himpalaunas.com/ yang memasuki Luweng Ombo pada 30 Desember 2009 (21+ tahun sesudahnya), agar pembaca bisa membayangkan jalan cerita dengan situasi sebenarnya.

Alkisah, salah seorang yang dilempar hidup-hidup ke dasar Luweng Ombo, berhasil keluar dan muncul di pantai Selatan dengan rambut yang sudah panjang dan muka ditumbuhi kumis serta janggut.

Secara keseluruhan, dasar gua Luweng Ombo masih terang oleh sinar matahari, terutama antara pukul 11.00 sampai pukul 13.00. Sinar tersebut menerobos langsung menyinari sebagian dasar Luweng Ombo. Suhu di dasar berkisar antara 21 sampai 23 derajat celcius.

Keadaan Luweng Ombo yang lembab dan tidak dipengaruhi matahari secara total, menyebabkan pertumbuhan di dasar berbeda dengan di atasnya. Di antara kegersangan yang menghampar dan sulitnya air permukaan (water surface) di atas, di dasar Luweng Ombo masih ada sebidang tanah yang tampak rimbun dan menghijau oleh vegetasi serta melimpahnya air. Gejala ini cukup menarik untuk diteliti, melihat banyaknya jenis tumbuhan di dasar lubang yang tidak dapat dijumpai lagi pada tanah di atasnya. Disimpulkan sekitar puluhan spesies yang telah punah di atas, ternyata masih bisa didapat di dasar Luweng Ombo. Dari hasil observasi, mungkin akan dapat kita ambil suatu gambaran dari hutan pegunungan Sewu ratusan tahun yang lalu, khususnya di sekitar Dusun Petung.

Karena kurangnya sinar, pohon-pohon yang dijumpai di dasar lubang umumnya telah beradaptasi dan mempunyai batang yang kecil, berdiameter tidak lebih dari 3 cm, serta tinggi, sekitar 2 sampai 5 meter. Sedangkan daunnya lebar dan letaknya tinggi di atas batang. Vegetasi yang lain juga didapat di dinding-dinding lubang serta pinggiran bibirnya. Umumnya berupa jenis lumut-lumutan, tumbuhan sulur dan semak, walaupun ada juga beberapa tanaman keras.

Kalau kita perhatikan dari atas, tetumbuhan yang tumbuh dengan subur di dasar lubang, tepat berada di bawah mulut lubang tersebut dan membentuk zona yang juga mirip dengan bentuk mulut gua tadi. Ini dapat dimaklumi, karena hanya zona sekitar situ saia yang langsung terkena air hujan maupun sinar matahari, yang jatuh melewati mulut gua. Salah satu tanaman yang biasa mengganggu jalannya penelitian adalah tanaman pulus, karena bulu-bulu kecil pada daunnya dapat membuat kulit kita gatal dan perih. Tanaman ini sangat dominan di dasar gua Luweng Ombo, disamping juga tanaman-tanaman yang tingginya 2 – 5 meter.

 

Dari hasil pengamatan penyebaran vegetasi, dapat digambarkan sebagai berikut. Dinding gua sebelah Utara banyak ditumbuhi tumbuhan paku-pakuan, tanaman keras dan tanaman sulur. Selain itu tepat di depan mulut lorong Utara, menyebar tanaman pulus dengan jumlah cukup banyak. Di atas lorong Timur Laut terdapat tanaman-tanaman merambat. Tanaman ini juga terdapat di sebelah Selatan. Tepat di atas lorong Barat Daya lalu sedikit ke arah Selatan terdapat banyak sekali tanaman sulur (menjulur ke bawah) dengan paniang kurang lebih 30 meter. Kalau diamati, tanaman ini tumbuh subur karena terkena sinar matahari langsung antara pukul 07.00 sampai 11.00. Selain itu, di sekitarnya juga terdapat beberapa tanaman keras. Di pintu masuk lorong Barat Daya sampai kedalaman kurang lebih 15 meter, masih bisa dijumpai tanaman pejenis lumut dan juga tanaman-tanaman kecil dengan jumlah sangat sedikit.

Vegetasi yang menyebar di dasar gua adalah: pulus dan tanaman tinggi yang mendominasi. Tanaman dengan daun seperti pandan ada sebanyak 10 buah, menyebar melingkari bukit kecil, letaknya di lembah antara bukit-bukit tersebut. Tiga buah tanaman ini terletak dekat Base Camp yang dibuat oleh Tim Trupala. Di tengah-tengah terdapat sejenis pohon dari keluarga palem sebanyak 3 buah. Terdapat juga tanaman sejenis keladi sebanyak 14 buah, menyebar tidak merata, sebagian besar berada di Selatan. Tanaman dengan daun seperti singkong terdapat mengelompok di sebelah Utara dan Selatan, dimana di Selatan tampak lebih banyak. Tanaman ini tidak terdapat di tengah-tengah. Tanaman dengan bentuk daun seperti bambu menyebar dari lorong Timur Laut tegak lurus ke arah tengah-tengah. Tanaman dengan bentuk daun seperti waru terdapat di Selatan dengan jumlah sedikit sekali.

Apabila kita sedang berada di dasar gua, lorong Utara tidak akan kelihatan, karena terhalang oleh sisa-sisa runtuhan yang membentuk bukit persis di muka lorong tersebut.

Begitu pula dengan lorong Timur Laut, bukit yang terbentuk akibat runtuhnya atap gua di tengah-tengah, membuat lorong tersebut seakan-akan berada di bawah sekali. Selain itu atap mulut guanya berbentuk sangat rata, serata air yang mendatar, sangat lurus seperti dipahat saja. Kemungkinan atap ini terbentuk akibat kikisan air yang mengalir dengan deras ketika lorong ini penuh berisi air ratusan tahun yang lalu. Persis di atas lorong Utara terdapat Canopy (ornamen gua berbentuk seperti payung) dan Flowstone (ornamen berbentuk seperti air yang mengalir) dengan warna ungu yang sudah kusam, menandakan ornamen tersebut sudah lama tidak terbentuk lagi (menjadi fosil).

Di atas lorong Timur Laut ke arah Selatan sejauh kurang lebih 20 meter, lalu tegak lurus ke atas setinggi kurang lebih 30 meter terdapat sebuah lorong horisontal dengan diameter kira-kira 10 meter. Agak ke kanan sedikit ada juga lorong horizontal dengan diameter kira-kira 5 meter.

Tinggi di atas lorong Barat Daya terdapat sebuah Overhang (atap yang menggantung) menjorok jauh ke luar di mana di bawahnya terdapat Boelder dengan jumlah sangat banyak. Pada Overhang tersebut terdapat 2 buah lubang vertikal dengan diameter antara 10 sampai 15 meter. Di atas mulut lorong tersebut agak ke kiri terdapat beberapa Canopy dan juga Gourdam (ornamen berbentuk seperti undak-undakan sawah) yang juga sudah menjadi fosil.

Di mulut gua Luweng Ombo, sebelah Utara lebih rendah dibanding dengan sebelah Selatan, karena letaknya memang di sebuah lereng sebuah bukit, di mana bukit tersebut terletak di sebelah Selatan dari mulut gua. Di sebelah Selatan terdapat beberapa Stalagtite yang tampak besar dan kokoh, dengan panjang antara 0,5 sampai 1,5 meter.

Demikian sedikit cerita tentang Luweng Ombo yang berhasil saya himpun, baik dari masyarakat sekitarnya, dari hasil pengamatan saat ekspedisi, maupun dari laporan-laporan terdahulu. Ekspedisi Kecil Luweng Ombo Trupala 1988 yang telah dilaksanakan tanggal 30 Juni sampai 16 Juli 1988 yang lalu, sedikitnya telah membawa hasil. Saya sendiri yang tergabung dalam tim ekspedisi, tidak bisa mengatakan apakah ekspedisi ini telah berhasil atau tidak, setidaknya sudah masuk target atau belum. Saya tidak bisa berangkat bersama-sama dengan anggota tim yang lain pada tanggal 30 Juni 1988, berhubung kesibukan saya untuk mencari sekolah Universitas di Jakarta selesai ujian SMAN 6. Setelah urusan sekolah selesai, barulah saya menyusul, tepatnya pada tanggal 6 Juli 1988. Ini sebagian dari cerita saya….

 

(bersambung ke bagian 3)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: