Ekspedisi

EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bagian 3 dari 11)

Prolog: cerita ini adalah sebuah catatan harian Ihsan Kusasi (http://ihsankusasi.wordpress.com), tr 002/85, yang bersama Tim Trupala melakukan ekspedisi penelusuran gua pada tahun 1988. Disajikan dalam cerita bersambung sebanyak 11 bagian. Selamat membaca bagian 3 (tiga) cerita ini:

Rencana dan Persiapan

Jauh hari sebelumnya, bulan Januari 1988, keinginan saya untuk memasuki Luweng Ombo sudah tidak dapat di bendung. Saat itu sudah 1,5 tahun saya berkecimpung di dunia penelusuran gua, dan keinginan untuk memasuki Luweng Ombo selalu saja ada, walaupun agak terhambat, karena sedikitnya anggota divisi, dan masih kurangnya ilmu yang didapat, serta peralatan yang dimiliki.

Latihan di Stadion Geloran Bung Karno Senayan dalam rangka ekspedisi Luweng Omb0

Setelah saya evaluasi sendiri, dengan bertambahnya ilmu dan personil dari anggota Trupala yang baru, saya mulai berani mencoba mengusulkan suatu ekspedisi penelusuran gua dengan tujuan Luweng Ombo. Orang pertama yang saya ajak bicara adalah rekan Tumbur, tr 064/84 — rekan satu divisi dengan angkatan satu tahun di atas saya. Saya kemukakan hasrat saya agar Divisi Penelusuran Gua Trupala pergi ke Luweng Ombo, dengan argumen yang tepat, terutama masalah personil dan ilmu yang dimiliki anggota-anggota divisi di Trupala. Saya sendiri saat itu sudah tidak bisa apa-apa, berhubung sampai bulan Mei 1988, perhatian saya harus terfokus kepada pelajaran, karena ujian akhir di SMAN 6 Jakarta semakin dekat. Alasan itu pula yang menyebabkan saya meminta Tumbur untuk memegang anak-anak berlatih.Jawaban yang saya dapat dari Tumbur ternyata positif. Besoknya, saya langsung mengumpulkan anak-anak Divisi Penelusuran Gua Trupala ’87 dan mengemukakan rencana kegiatan tersebut. Jawaban dari mereka pun positif. Mulailah saat itu kami berlatih, tanpa saya tentunya.

Berhubung kepengurusan Trupala yang sedang dipegang angkatan saya (1985) segera berakhir, sekitar bulan Februari 1988, Proyek Proposal Ekspedisi tersebut belum dapat dibuat, takut setelah penggantian pengurus akan timbul beberapa masalah. Ekspedisi itu sendiri akan dilaksanakan sekitar bulan Juli 1988, saat liburan semester.

Beberapa anggota Trupala yang berada di Yogyakarta bersedia menyediakan waktunya untuk melakukan survey lokasi. Mereka adalah Gatot, tr 015/83 dan Dody Tetra tr 018/84. Selesai survey, mereka membuat laporan dan ke Jakarta untuk melaporkannya ke Dewan Pengurus Harian Trupala (catatan redaksi: tahun 1988 belum ada Internet dan email).

Proposal pun dibuat. Anggota Trupala yang tercatat menjadi anggota tim adalah:

  1. Dedi Agus Indra Setiawan, tr 003/84
  2. Tumbur H. P. Nainggolan, tr 064/84
  3. Mustafa Luthfi A. F., tr 073/84
  4. Muhammad Ihsan Kusasi, tr 002/85
  5. Roosana Vieta, tr 058/85
  6. Maya Pinantoan, tr 009/86
  7. Rachmat Rukmantara, tr 032/86
  8. Satriyo Wibowo, tr 040/86
  9. Willy Chrisna Ramdahani, tr .045/86
  10. Rudolf Franky Seba, tr 049/86 (catatan redaksi: Rudolf ‘Doloph’ wafat 20 Juni 2011 karena sakit)
  11. Retno Wulan Kartika, tr 063/86
  12. Ferry Poha Utomo, tr 019/87
  13. Gito Gunarseno, tr 020/87
  14. Adi Bagus Santoso, tr 021/87
  15. Victor Setiawan, tr 029/87
  16. Ismul Komar, tr 030/87

Kalau kita lihat di atas, ekspedisi ini terdiri dari anggota-anggota Trupala dari 4 angkatan sekaligus, belum ditambah 2 angkatan lagi sebagai tim pendukung. Suatu ekspedisi besar yang pertama kali dijalankan di Trupala. Tim ini dipegang oleh Taufik ‘Gopik’ Afriansyah, tr 077/81, sebagai pembimbing teknis.

Waktu terus berjalan, disamping kesibukan mencari dana — yang hasilnya sangat mengecewakan — dan juga kesibukan latihan. Mendekati hari ‘H’, beberapa anggota terpaksa mengundurkan diri dengan alasan izin orang tua yang susah dan beberapa mengikuti ujian sekolah. Mereka adalah: Tumbur, Vieta, Maya dan Adi. Total anggota tim terakhir adalah 12 orang. Saya sendiri mulai latihan intensif setelah Ujian Akhir Sekolah SMAN 6 berakhir, sambil sedikit-sedikit menurunkan ilmu untuk anggota baru, anak-anak angkatan ’87. Gopik, karena sesuatu hal, mengundurkan diri sebagai pembimbing teknis, dan djganti oleh Kimung, panggilan akrab dari Mustafa.

Kami semua berlatih dari awal. Latihan fisik, prusiking, dan self rescue. Bagaimana turun vertikal di gua, juga bagaimana cara naiknya lagi, cara berjalan di celah-celah gua horisontal, berialan di atas lumpur yang dalam, latihan Cave Rescue (tindakan pertolongan di dalam gua, terutama untuk gua vertikal), baik sistem Lowering (menurunkan korban) atau sistem Raising (menaikkan korban), cara mengirim barang-barang, dengan sistem Hauling, mulai dari H system, dan juga Z-rig. Tidak lupa kami mendalami lagi Speleologi.

Beberapa gua vertikal kami kunjungi, terutama gua vertikal Gajah di daerah Ciampea, Bogor. Kami juga berlatih Mapping (pemetaan gua), dan mempraktekkannya di gua horisontal Simenteng, Gudawang. Tempat latihan kami di Jakarta, kalau tidak di climbing wall SMAN 6, kami pergi ke bukit Senayan. Setiap latihan akan di mulai, kami bersama-sama latihan fisik. Untuk menambah mental, kami latihan Ascending (naik memakai tali) maupun Descending (turun), dengan berbagai variasi kesulitan, termasuk menutup mata dengan slayer, dan memasang tali di atap gedung Gelora Bung Karno, Senayan. Empat  hari berturut-turut kami berlatih dari atap stadion setinggi 40 meter.

Mendekat ke hari ‘H’ kami kedatangan seorang rekan dari FINSPAC (Federation of Indonesia Speleological Activities) atau HIKESPI (Himpunan Kegiatan Speleologi Indonesia), rekan Fathul ‘To’ing’ Arifin, dimana sekitar awal tahun ’80-an pernah memasuki Luweng Ombo dengan kelompoknya yang dulu bernama Specavina. Dia sekaligus ingin melihat bagaimana cara kerja tim dalam menuruni gua Luweng Ombo nanti dengan SRT, Single Rope Technique. Sedikitnya kami mendapat tambahan ilmu, bagaimana caranya yang lebih efisien dalam Cave Rescue, terutama sistem Lowering, kami mendapat satu teknik lagi, yang tampaknya lebih efisien.

Mengingat mahalnya peralatan penelusuran gua, kami mencoba membuat sendiri alat-alat, yang pada prinsipnya tidak ada hubungan langsung dengan nyawa kami. Lampu karbit, yang sangat mahal kalau kita beli di pasaran (karena buatan Perancis), dan juga stoknya belum tentu ada, kami coba untuk membuatnya sendiri. Dari barang-barang bekas (tabung pemadam api kecil berwarna merah) yang kami cari di Taman Puring, akhirnya 8 set lampu karbit berhasil kami buat, dengan hasil yang lumayan, nggak jauh beda dari merek Petzl. Murah lagi!

“Lumayan San, bagus. Kreatif loe!”, komentar To’ing begitu melihat api yang sangat putih dari lampu karbit yang menempel di helm saya. Jauh sebelumnya, secara iseng saya membuat lampu karbit meniru lampu karbit Petzl. Dengan mempelaiari cara kerja alat tersebut pada katalognya, saya coba buat sendiri, dan tidak disangka hasilnya bagus, bahkan diperbanyak khusus untuk ekspedisi ini.

Kemudia hari ‘H’ pun terjadi….

(bersambung ke bagian 4)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

One thought on “EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bagian 3 dari 11)

  1. Ekspedisi caving yang luar biasa. Dalam tahap persiapan latihan..yg paling berkesan adalah saat kita bergelantungan berpuluh2 meter di atas permukaan tanah di stadion utama senayan (GBK sekarang) . Dan juga bergelantungan berjam2 di atas pohon dekat ring basket di SMA 6.

    Posted by rahmat03286 | July 28, 2012, 3:45 am

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: