Ekspedisi

EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bagian 4 dari 11)

Prolog: cerita ini adalah sebuah catatan harian Ihsan Kusasi (http://ihsankusasi.wordpress.com), tr 002/85, yang bersama Tim Trupala melakukan ekspedisi penelusuran gua pada tahun 1988. Disajikan dalam cerita bersambung sebanyak 11 bagian. Selamat membaca bagian 4 (empat) cerita ini:

30 Juni 1988, Pelepasan….

Rasanya berat sekali melepas teman-teman satu tim yang berangkat duluan. Kami semua — yang sudah sering latihan sama-sama — serasa kompak dan susah dipisah. Dalam hati saya sudah pengen cabut saja, tapi hati kecil saya yang lain menahannya, karena bagaimanapun urusan mencari sekolah Universitas harus didahulukan.

Akhirnya tim Ekspedisi Kecil Luweng Ombo Trupala 1988 berangkat juga, seakan mimpi saja. Sebab, diantara seretnya dana yang didapat, juga mendesaknya waktu, tim ini bisa berangkat. Selain itu, seakan mimpi lagi, banyolan-banyolan kecil dan angan-angan yang tinggi untuk pergi ke Luweng Ombo saat saya masih di kelas 2 SMAN 6 Jakarta, ternyata dilaksanakan tahun ini. Apalagi umur Divisi Penelusuran Gua di Trupala yang relatif masih rendah, baru 3 tahun berjalan.

Dengan menggunakan sebuah truk, tim ekspedisi berangkat sekitar pukul 19.45. Abdul Rahman Mandole, tr 056/86 dan Febrinaldy, tr 076/86, sang ketua Trupala dan wakilnya, ikut menemani tim tersebut. Selain itu beberapa anggota Trupala ikut sebagai tim pendukung di sana. Mereka adalah: Cyprianus Rowaleta, tr 121/81, Antoni Adriansyah, tr 009/83, ditambah seorang guru pembimbing, Pak Hamid dan seorang penjaga sekolah SMAN 6, Kardi. Sebagai tim pendukung Komunikasi, Wahyudi Rafly, tr 028/86 turut pula ikut, dengan membawa seperangkat alat komunikasi 11 meter, 2 meter dan interkom (interkom tersebut saya buat khusus untuk ekspedisi ini sesuai hobby elektronika saya).

Sebelumnya,  pada siang hari, Wulan, tr 063/86 telah berangkat duluan menggunakan bis menuju Solo, ke tempat saudaranya, ditemani oleh ibunya dan seorang anggota tim pendukung Konsumsi, Ova, tr 019/86.

Seminggu sebelum hari ‘H’, Yudie Pirngadi, tr 063/84 dan Ian, tr 062/85, melakukan advance untuk mengurus surat-surat di kepolisian Surabaya dan izin di lokasi ekspedisi. Mereka berjanji utuk bertemu di lokasi ekspedisi.

Hari demi hari telah lewat, saya — sesuai perjanjian (catatan redaksi: tahun 1988 belum ada telpon seluler, Internet, maupun chatting) — mencoba untuk mengontak tim ekspedisi di Pacitan dengan alat komunikasi 11 meter. Hasilnya tetap nihil. Sampai akhirnya tanggal 4 Juli 1988, pukul 10.00 ada berita dari Pacitan yang diterima RAPI lokal Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Diberitakan bahwa tim ekspedisi telah turun ke Luweng Ombo pada tanggal 2 Juli 1988. Selain itu, Ian pada tanggal 5 Juli 1988 sudah berada di Jakarta dengan membawa berbagai berita. Diantara berita-berita yang sampai ke Jakarta, masalah konsumsi yang paling sering dibicarakan.

 

6 Juli 1988, Menyusul….

Pagi hari saya bangun untuk mengepak barang-barang. Berbagai konsumsi titipan dari anak-anak Trupala lainnya, pakaian ganti pribadi, alat-alat penelusuran gua pribadi dan alat tidur, masuk dalam satu ransel, sehingga membuat ransel berkapasitas 60 liter tersebut kepenuhan. Pukul 16.00 saya telah tiba di SMAN 6. Sesuai dengan perjanjian, kami – saya bersama Erry Nurtantio, tr 046/86, Helena ‘Adhe’ Laksmi Dewi, tr 052/86, dan Suzana ‘Susan’, tr 004/86 — akan berkumpul di sekolah sebelum waktu maghrib. Tapi, selepas maghrib, Erry belum juga datang dan ketika ditelpon dia memang sedang ada sedikit urusan di rumahnya.

Karena takut kami tidak dapat tempat duduk di Kereta Api, pukul 18.40 saya dan Ferdinan tr 101/84, cabut duluan ke stasiun Tanah Abang, untuk memesan karcis. Karcis seharga Rp.6.500,-/orang (catatan redaksi: saat itu harga 1 mangkok mie ayam masih Rp.350,-) kami beli dengan tujuan Solo. Setelah menunggu, pukul 20.00 Erry, Adhe dan Susan tiba di stasiun. Kami langsung masuk ke dalam gerbong. Ferdinan ikut mengantar.

“Hati-hati San di jalan, titip anak-anak ceweknya,” kata Ferdinan kepada saya, sebelum dia turun dari kereta.

“Sip lah!” jawab saya.

Pukul 21.10. Dengan hentakan yang nggak bisa dibilang lembut, kereta api senja ekonomi ini mulai bergerak keluar stasiun.

 

7 Juli 1988, Luweng Ombo, I am coming….

Melewati malam yang nggak nikmat, karena seringnya kereta berhenti dengan lama dan sesaknya penumpang yang tidak kebagian tempat duduk, pukul 12.00 kami tiba di Solo, tepatnya Stasiun Kereta Api Solobalapan. Turun dari kereta kami langsung mencari kamar mandi untuk membersihkan badan dan menggosok gigi. Setengah jam kemudian kami keluar dari stasiun.

Kami lalu konvoi dengan menggunakan 2 buah becak, menuju stasiun Bis Solo. Rp.500,- kami keluarkan untuk ongkos capek tiap tukang becak. Sesampainya, kami langsung masuk bis Timbul Jaya — yang menurut informasi dari tukang becak — bis ini langsung menuju Pacitan, tidak ganti-ganti bis, seperti bis yang lainnya. Pukul 12.50 bis berangkat, dengan harga tiket Rp.l.000,-/orang menuju Donorejo.

Pukul 14.50 bis memasuki Kota Baturetno, dan berhenti untuk istirahat makan siang. Kami turun untuk makan siang. Adhe, sejak dari kereta, keadaan memang sudah kurang baik. Suhu badannya lebih tinggi dari biasanya. Siang ini dia tidak banyak makan.

Lima belas menit diberikan oleh supir bis tadi untuk beristirahat. Bis melanjutkan lagi perialanannya….

 

(bersambung ke bagian 5)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: