Ekspedisi

EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bagian 5 dari 11)

Prolog: cerita ini adalah sebuah catatan harian Ihsan Kusasi (http://ihsankusasi.wordpress.com), tr 002/85, yang bersama Tim Trupala melakukan ekspedisi penelusuran gua pada tahun 1988. Disajikan dalam cerita bersambung sebanyak 11 bagian. Selamat membaca bagian 5 (lima) cerita ini:

Catatan: pada cerita bagian ini ada Rudolf ‘Doloph’, tr 049/86 , yang telah wafat pada 20 Juni 2011 karena sakit.

7 Juli 1988, Sampai di Lokasi….

Satu jam perjalanan, akhirnya kami tiba di Donorejo. Sesuai dengan informasi dari Ian, tr 062/85, saat di Jakarta, kami akan turun di tempat apa yang biasa di sebut Pojok, yaitu sebuah pertigaan, satu menuju Pacitan, dan yang lainnya menuju Desa Kalak.

Begitu turun,  kami    langsung masuk Colt, satu-satunya kendaraan umum yang menuju Desa Kalak. Beberapa penduduk yang melihat kami, sudah tahu bahwa kami akan menyusul teman-teman yang sudah datang duluan. Ongkos menuju lokasi ekspedisi yang seharusnya Rp.700,-/orang, kami bayar dengan harga Rp.l.000,-/orang, karena kurang akuratnya informasi yang kami dapat, dan juga sudah sedikitnya kendaraan umum saat itu. Pukul 16.10 Colt cabut ke Desa Kalak.

Base Camp (BC) induk Ekspedisi Kecil Luweng Ombo Trupala ’88 terletak di rumah kepala Dusun Petung, rumah Pak Sarno. Dusun Petung itu sendiri terletak sebelum Desa Kalak. Dan Luweng Ombo itu sendiri terletak setengah kilometer sebelum BC induk. Begitu melewati Luweng Ombo, ternyata keadaan sudah sepi. Rupanya ekspedisi memasuki Luweng Ombo sudah selesai. Gila, kalau begitu saya kapan masuknya??

Pukul  17.00 kami berempat tiba di BC induk, dan disambut dengan hangat oleh anak-anak Trupala, serta Pak Sarno. Berhubung saya menyusul dengan tujuan untuk memasuki Luweng Ombo, tentu saja saya langsung bertanya,

“Ke Luweng Ombo sudah selesai, nih? Kapan talinya digulung ke atas? Ngapain aja lu pada-pada di dalam?”

Jawaban-jawaban yang saya dapat,

“Sudah selesai, San”.
“Tali digulung tanggal 5 malam, San”.
“Kita-kita cuma nelusuri lorong Timur Laut dan Barat Daya, San”.

Medengar semua jawaban tersebut, sepertinya ada suatu yang mengganjal di hati kecil saya. Kalau dihitung-hitung, waktu yang mereka habiskan di dalam Luweng Ombo hanya 4 hari (catatan redaksi: penulis pada tahun 1986 ikut dalam ekspedisi Trupala memanjat tebing Gunung Parang selama 10 hari). Apakah itu tidak terlala cepat? Apakah mereka tidak menikmati ekspedisi ini dengan santai, sehingga akan lebih berkesan nantinya? Apakah mereka sudah puas menikmati ornamen-ornamen gua? Apakah mereka sudah melakukan eksplorasi, observasi, konservasi, pemetaan gua dengan waktu yang sedemikian rupa? Apakah….

”Lu kagak metain gua?” tanya saya kepada Ismul, tr 030/87.

Nggak San, cuma masukin 2 lorong. Nggak santai lagi”.

Mendengar itu lagi, sesuatu yang mengganjal di hati menjadi semakin besar. Mengapa musti terburu-bura? Lalu apa hasil yang akan dibawa ke Jakarta? Apa yang akan dipresentasikan di Jakarta, di depan Dewan Pengurus Harian? Apa segini aja? Lalu mereka tidak memikirkan prospek yang mungkin akan lebih cerah, kelau mereka membawa hasil yang nyata, terutama peta gua Luweng Ombo. Dan tidak dipikirkan kalau nantinya Divisi Penelusuran Gua di Trupala ini akan lebih diakui oleh kelompok-kelompok Speleologi di Indonesia, yang sudah pakar tentunya, apabila kita membawa hasil yang nyata tadi, walaupun kita wasih di tingkat SMA? Apakah kita nanti akan hanya membawa segudang cerita, berikut foto-foto, yang belum tentu jadi? Apakah….
(catatan redaksi: tahun 1988 belum ada kamera digital, sehingga hasilnya baru bisa dilihat setelah ekspedisi selesai)

Malam ini diadakan evaluasi, karena beberapa tim siang tadi ditugaskan untuk mensurvey 2 buah gua, Luweng Jenggung dan Luweng Jomblang. Kesimpulannya, besok akan diadakan pemetaan di kedua gua tersebut.

Cyprianus, tr 121/81, dan Dedi Agus, tr 003/84, besok pagi pukul 05.30 rencana akan cabut kembali ke Jakarta. Dedi akan mengurus pendaftaran sekolah Universitasnya. Sebenarnya, Dedi sudah tidak mau berangkat, tetapi setelah dirayu, akhirnya dia mau berangkat pulang juga. Malam ini juga Dedi — sebagai senior satu tahun di atas saya — memanggil saya untuk berbicara sedikit mengenai hari-hari yang telah lewat sebelumnya selama ekspedisi berlangsung sebelum saya tiba, masalah-masalah yang pernah timbul dan kemungkinan yang akan timbul. Kami berdua berdiskusi bagaimana cara penyelesaiannya. Dia juga menitipkan anak-anak, terutama anak-anak Trupala angkatan di bawah saya, agar ekspedisi ini berjalan sesuai dengan rencana.

Malam semakin larut. Akhirnya tiba waktu istirahat. Badan yang terasa sangat capek — akibat hampir 24 jam perjalanan dari Jakarta sampai Dusun Petung — saya rebahkan di lantai terbungkus Sleeping Bag dan beralaskan matras. Sulit untuk tidur, karena pertanyaan-pertanyaan di atas saat mencapai BC induk terus mengiang-ngiang dan mengganggu sel-sel otak saya, dengan jawaban yang masih mengambang. Sampai akhirnya mimpi mengantarkan saya sehingga terlelap….

8 Juli 1988, Bonus Pemandangan….

Pukul  05.30 kami bangun. Langsung kami siapkan peralatan penelusuran pribadi masing-masing, alat-alat pemetaan gua, dan tentunya tak lupa untuk sarapan pagi.

Setelah semuanya siap, pukul 08.10 kami berangkat. Kebetulan saya kebagian untuk memetakan Luweng Jenggung. Tim saya: Bowo, Wulan, Rudolf, Rachmat dan Willy. Pembagian tugas pemetaan adalah: saya sebagai asisten pendata bersama Rachmat, tr 032/86, sedangkan Bowo, tr 040/86, sebagai pendatanya. Leader di pegang Willy, tr  045/86, sedang Wulan, tr 063/86, dan Rudolf, tr 049/86, sebagai asisten leader. Alat pemetaan yang kami bawa adalah rollmeter 30 meter, 2 buah kompas basah berskala 2 derajat, dan busur berskala 1 derajat untuk mengukur kemiringan.

Untuk memasuki Luweng Jenggung, kami harus melewati tempat mandi dan cuci umum (MCK), karena di situlah satu-satunya sumber air yang terdapat di Dusun Petung. Menurut informasi — kalau musim kemarau tiba — sekitar 7 dusun di sekitar Dusun Petung semua lari ke tempat ini untuk mengambil air. Bayangkan, kurang lebih 3 sampai 4 kilometer mereka berjalan hanya untuk mendapatkan air, padahal di bawah mereka — di dalam gua-gua — air sangat berlimpah. Merekapun harus antri dulu, panjang sekali, seperti antri karcis kalau mau nonton film The Last Emperor (catatan redaksi: tahun 1988 film tersebut sedang happening).

Pemandangan yang kami dapati begitu sampai di MCK sangat mengejutkan. Gila, penduduk mandi dengan polosnya tanpa selembar benangpun. Nggak laki-laki, nggak juga perempuan! Oh Wow!! Polos banget!!!

Kami terus berjalan sambil melirik bonus. Untuk masuk Luweng Jenggung, kami harus menuruni slope 45 derajat setinggi 30 meter sebelum bertemu dengan mulut gua horisontalnya yang berupa sungai bawah tanah. Diantara kemiringan tersebut terdapat sebuah Gourdam (ornamen gua berbentuk undak-undakan sawah) berwarna putih. Kami semua memutuskan untuk melihat-lihat Gourdam dahulu. Wow, Gourdam tersebut putih benar! Indah sekali!! Apalagi ketika lampu karbit kami menimpa permukaannya yang putih, sinar tersebut dipantulkan kembali, karena unsur kalsit yang terdapat di dalamnya. Membuat Gourdam tersebut memantulkan cahaya seperti sebuah Sticker Scotchlite. Belum lagi keseluruhan tinggi undak-undakannya yang mencapai 15 meter.

Namun ternyata, ada lagi yang lebih indah….

(bersambung ke bagian 6)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: