Opini

TRUPALA bubar…? [Mengurai permasalahan Trupala melalui pendekatan teori kelompok sosial]

bagian pertama dari dua tulisan

“The organization is a way for people to find us and deal with us and know how we operate ( Mitchell Baker )”

Ibnu Rizal

Saya coba brief sedikit mengenai siapa Mitchell Baker yang menjadi inspirasi saya untuk segera membubarkan (baca: membahas) Trupala. Dia adalah seorang wanita yang menjabat sebagai Chairman –sebelumnya dia menjabat sebagai CEO Mozilla Foundation yang bertanggung jawab untuk mengatur dan menjalankan web browser Mozzilla Firefox dan program e-mail gratis yang diberi nama Mozilla Thunderbird. Untuk yang mau tahu profile lengkapnya silakan cari sendiri informasinya di internet.

Jadi sebelum kita memutuskan lebih lanjut apakah sebaiknya Trupala dibubarkan atau tidak, saya ingin mengajak kita semua untuk mencermati quote di atas melalui pendekatan teori kelompok sosial.

Trupala : komunitas atau organisasi ?

Bila kita berbicara masalah organisasi, berarti kita perlu mendalami makna dan esensi yang menjadi unsur pembangun atau terciptanya sebuah organisasi. Lebih jauh lagi perlu kita pahami pula hal-hal apa yang menjadi unsur pembeda antara organisasi dengan kumpulan orang-orang yang sering kita sebut sebagai komunitas atau kelompok sosial dari beberapa individu yang berbagi lingkungan, umumnya memiliki ketertarikan dan habitat yang sama.

Sedikit gambaran tentang perbedaan antara komunitas dan organisasi berdasarkan ilmu yang saya miliki. Bentuk komunitas, kira-kira seperti ini :

  1. Tidak ada struktur organisasi yang jelas dan sifat keanggotaannya pun tidak mengikat. Kalaupun ada hanya sebagai fungsi koordinasi dan sifatnya sementara, misalnya : ketua dan anggota untuk suatu kegiatan bakti sosial dan seterusnya.
  2. Terwujud dari orang-orang yang memiliki kedekatan emosional (meskipun kadang diantara mereka belum pernah bertemu wajah), ikatan batin yang kuat, kebutuhan akan sosialisasi, kebutuhan untuk melakukan sharing pengalaman internal, dasar kepentingan/hobby yang sama dan latar belakang solidaritas.
  3. Kegiatan yang dilakukan biasanya bebas, tidak mengikat dan tidak terencana. Bentuk kegiatannya sendiri cenderung musiman dan hanya mengikuti trend yang sedang ‘in’ saat itu.
  4. Hampir dapat dipastikan bahwa dalam suatu komunitas  tidak ada unsur legalitas formal.
  5. Intinya segala sesuatu berdasarkan kesepakatan bersama, kalau mau ya hayuuuk… kalo enggak ya udah gapapa… just as simple as that!

Sedangkan untuk dapat disebut sebagai organisasi, harus memuat paling tidak lima unsur berikut :

  1. Berorientasi tujuan (goals oriented).
  2. Sistem hubungan sosial yang baik (proper psychosocial system).  Selain bentuk komunikasi untuk mendukung terwujudnya tujuan diperlukan pula wadah atau tempat untuk bekerja sama.
  3. Aktifitas atau kegiatan yang terstruktur (structured activities). Hal ini ditunjang dengan kedudukan dan tugas masing-masing anggota yang jelas.
  4. Sistem teknologi yang menyeluruh (comprehensive technological system).
  5. Memiliki sistem legal formal yang jelas dan terstruktur.

Kalau benar ingatan saya, saat kembali ke awal tahun 1990-an ketika saya masih duduk di bangku SMA pernah satu kali saya membaca salah satu dokumen yang dikeluarkan oleh OSIS SMA 6 di bawah kepengurusan angkatan saya [atau di atas saya?] menyebutkan bahwa Trupala adalah satu-satunya ekstrakurikuler pada saat itu yang sudah berbentuk organisasi. Berbeda dengan kegiatan ekstrakurikuler lainnya yang merupakan turunan atau binaan dari salah satu cabang olah raga, kegiatan seni atau hanya sekedar hobi. Hal ini berarti, ketika saya bergabung lalu mengikuti pendidikan dasarnya dan setelah itu berkontribusi dengan menjadi salah satu pengurusnya (DPH = Dewan Pengurus Harian), Trupala merupakan suatu bentuk kegiatan yang telah terorganisir, terstruktur dan mempunyai legal formal yang sejajar dengan OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). Sangat membanggakan…!

Walaupun dalam beberapa hal dan secara terpaksa Trupala harus berada di bawah bayang-bayang OSIS SMA 6. Namun secara organisasi, Trupala telah membuktikan jati diri dan kemandiriannya. Untuk setingkat SMA, Trupala sudah dapat melakukan hampir seluruh kegiatan yang pernah dilakukan oleh berbagai bentuk organisasi setingkat SMA dan melakukan hubungan secara administratif formal  dengan lembaga maupun tokoh masyarakat untuk menjalankan program-program kerja tahunannya.

Kalau cuma dibayangkan mungkin kita tidak akan percaya kalau ada sekelompok siswa SMA dapat mengagas suatu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh kelompok orang-orang setingkat mahasiswa atau pekerja kantoran. Sekali lagi, hampir semua kegiatan profit maupun non-profit telah dilakukan oleh anggotannya yang bertujuan untuk pengembangan organisasi baik dalam skala lokal maupun nasional dan bahkan ada satu kegiatan ekspedisi yang bertaraf internasional.

Sejak kegiatannya dibekukan pada tahun 1994 akibat rasa “percaya diri” yang terlalu berlebihan dari anggotanya dan sempat mati suri selama sekitar satu tahun, Trupala mulai gamang dan kehilangan arah dalam menjalankan tanggung jawab dan program kerja yang telah ditetapkan oleh pengurusnya.

Walaupun hingga tulisan ini anda baca, saya dengan sadar mengakui bahwa memang masih ada (dan saya yakin masih akan ada lagi…) prestasi yang dapat dibanggakan, namun keterpurukan akibat rasa “percaya diri” berlebihan tadi ternyata telah merubah komitmen dan cara pandang anggotanya terhadap Trupala. Pola pikir anggotanya sudah mengarah kepada individualisme dan emosional sehingga kegiatan-kegiatan yang ada hanya bersifat musiman dan hanya untuk memenuhi rasa rindu akan nostalgia (baca: euphoria/kejayaan) masa lalu. Lebih parah lagi, segala kegiatan yang dilakukan hanya berdasarkan kesepakatan tanpa ada ikatan apapun dan pertanggungjawaban secara organisasional.

“Apakah kita hanya akan bertahan dengan kondisi Trupala yang ada saat ini?”. Saya cukup yakin kalau Trupala saat ini hanya merupakan suatu bentuk komunitas yang hanya sekedar memiliki rasa solidaritas dan ikatan emosional saja diantara para anggotanya. *sigh

Akhirnya…

“Bagaimana sikap kita dan apa yang akan kita lakukan bila ada orang atau kelompok sosial lain yng bertanya tentang keberadaan Trupala?”

“Bagaimana sikap kita dan apa yang akan kita lakukan bila ada orang atau kelompok sosial lain yang ingin bekerja sama dengan Trupala?”

“Bagaimana sikap kita dan apa yang akan kita lakukan apabila suatu saat nanti Trupala kembali ke jati dirinya semula sebagai suatu organisasi pencinta alam yang terstruktur dan mempunyai program kerja yang jelas dan memiliki anggota yang paham akan tugas dan tanggung jawabnya kepada Trupala?”

I wish…

Ibnu Rizal

tr.031/89

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

4 thoughts on “TRUPALA bubar…? [Mengurai permasalahan Trupala melalui pendekatan teori kelompok sosial]

  1. mari..kembali menjadi organisasi pencinta alam dan buat program kerja..lalu apa yg bisa saya kerjakan sekarang?

    {tr.051/92}

    Posted by cemot | August 7, 2012, 3:43 am
  2. Sangat tertarik membaca tulisan benul… dan pengen buru2 merespon.
    Iya, gw sebenernya melihat kita (trupala) sedang mengami krisis dalam pengambilan keputusan. Sehingga kita tidak bisa memutuskan ke arah mana seharusnya kita semua berjalan.
    Gw setuju dengan usulan cypri untuk mengadakan musyawarah trupala dan membentuk panitia kecil serta memfasilitasi untuk melakukan “pra-musyawarah” Trupala. Sehingga kita dapat memutuskan apakah kita akan terus berjalan seperti ini dengan nostalgia2 masa lalu…atau kita tata kembali organisasi Traupala sehingga berjalan sebagaimana layaknya sebuah organisasi.

    GBU all,

    Rahmat
    Tr.032/86

    Posted by rahmat03286 | August 7, 2012, 4:38 am

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: