Ekspedisi

EKSPEDISI KECIL LUWENG OMBO TRUPALA 1988 (Bagian 6 dari 11)

Prolog: cerita ini adalah sebuah catatan harian Ihsan Kusasi (http://ihsankusasi.wordpress.com), tr 002/85, yang bersama Tim Trupala melakukan ekspedisi penelusuran gua pada tahun 1988. Disajikan dalam cerita bersambung sebanyak 11 bagian. Selamat membaca bagian 6 (enam) cerita ini:

Catatan: pada cerita bagian ini ada Rudolf ‘Doloph’, tr 049/86 , yang telah wafat pada 20 Juni 2011 karena sakit.

8 Juli 1988, Menemukan Duren….

Setelah puas, kami memasuki sebuah celah, dimana terdapat sebuah ornamen yang sangat jarang ditemukan, yaitu Lion’s tail. bentuknya yang seperti ekor singa tersebut membuat kami betah berlama-lama di celah yang relatif sempit. Kalau melihat bentuknya sekilas, ornamen tersebut mengingatkan saya akan buah Duren yang sedang menggantung di pohonnya.

“Kita namain aja Duren!” celetuk saya spontan. Saat itu terdapat 3 buah Lion’s tail, dari yang besar hingga yang kecil. Yang paling indah adalah yang berukuran sedang, dimana batangnya masih kecil, sedang Durennya sudah besar.

Sebelum keluar dari celah, kami mengamati sekitarnya. Disimpulkan, bahwa gua ini adalah gua fosil, karena ada sisa bekas endapan lumpur yang sudah mengering, bahkan sudah menjadi Mud (lumpur yang tertutup lapisan endapan batu). Dari situ juga, kami dapat mengira-ngira, bagaimana terjadinya Lion’s tail. Diperkirakan, ornamen tersebut terbentuk selagi lumpur masih tinggi, dimana tetesan air yang membentuk Straw (ornamen seperti stalaktit, sebesar sedotan) sampai di lumpur tadi, lalu membentuk Lion’s tail. Ornamen ini kemudian terlihat sangat indah, begitu lumpurnya surut, dan mengendap jauh di bawahnya. Setelah puas, kami keluar dan memulai untuk pemetaan. Sebelumnya, di tengah jalan diantara Gourdam, kami menemukan Oolit (ornamen gua berbentuk mutiara) berwarna putih bersih.

Kami memetakan Luweng Jenggung sampai akhirnya kami ketemu sungai bawah tanah dan juga Sump (danau di dalam gua), dimana tardapat juga sumber mata air. Pemetaan kami berakhir di sini, karena kami tidak membawa pelampung untuk melanjutkan pemetaan. Sebelum keluar, kami istirahat sambil makan makanan kering.

Pukul 13.00 kami semua sudah berada di luar gua, langsung menuju MCK untuk membersihkan badan dan mencuci peralatan. Dua jam kemudian kami kembali ke Base Camp induk. Sebelum semuanya terlelap kecapean, saya putuskan untuk langsung memindahkan data-data kasar Luweng Jenggung tadi menjadi gambar peta ke dalam kertas milimeterblock. Pukul 15.50 kami mulai menggambar hasil pemetaan.

Dua puluh menit kemudian kami kedatangan tamu dari Jakarta, yang rupanya To’ing dari HIKESPI bersama Eryono Gularso, anaknya Mas Bambang dari Toko Outdoor Equipment “Exclusive”, Jakarta. Mereka saya sambut, dan sambil lalu saya mengajak To’ing untuk masuk Luweng Jenggung esok hari, terutama untuk melihat Lion’s tail yang indah yang sangat jarang ditemukan.

 

8 Juli 1988, Mengajukan Pemetaan Luweng Ombo….

Selesai makan malam, kami mengadakan evaluasi. Pukul 20.00 anak-anak Trupala berkumpul di Base Camp induk mengelilingi meja kecil bersegi delapan. Sementara To’ing dan Eryono pergi jalan-jalan ke tetangga depan, ke rumah Mas Parni — untuk berbincang-bincang setelah kurang lebih 7 tahun To’ing tidak bertemu — kami mengevaluasi hasil tim pemetaan tadi. Peta Luweng Jenggung di milimeterblock sudah selesai, sedangkan Luweng Jomblang datanya belum diproses. Setelah itu kami membicarakan rencana kegiatan selanjutnya.

Saya mengemukakan maksud saya agar tim Trupala masuk kembali ke Luweng Ombo, untuk memetakan dasar dan mulut gua tersebut yang tidak dilakukan kemarin (disamping terus terang, saya memang kepingin banget masuk Luweng Ombo). Saya kemukakan alasan-alasannya: semua pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan di dalam hati — yang belum bisa terjawab dan sempat mengganggu tidur saya kemarin malam — saya kemukakan semua, terutama untuk tim Ekspedisi Trupala sendiri, dan juga tentunya kepada pengurus Trupala.

“Saya hanya butuh 3 orang untuk menemani saya memetakan dasar gua Luweng Ombo,” jelas saya saat itu.

Setelah dievaluasi mengenai masalah konsumsi, tim pendukung dan lain sebagainya, akhirnya 3 orang bersedia menjadi anggota tim pemetaan Luweng Ombo, yaitu Bowo, tr 040/86, Rudolf, tr 049/86, dan Willy, tr  045/86. Sedang sisa anggota tim penelusur gua, dan tim pendukung lainnya, bersedia menjadi tim pendukung yang nanti akan berjaga dan membantu di Base Camp operasional di atas Luweng Ombo.

Kesimpulannya, besok saya akan pergi ke Luweng Jenggung menemani To’ing dan Eryono sampai siang hari, lalu malam hari mendirikan Base Camp operasional di atas Luweng Ombo. Sementara itu Bowo, Rudolf dan Willy minta istirahat 1 hari besok sebelum menemani saya memasuki Luweng Ombo kembali.

Malam ini kami semua tidur dengan lelap di Base Camp induk. Angin yang cukup keras di luar, menggoyangkan dedaunan dan menimbulkan suara yang mengalun, seakan-akan mengantarkan kami ke alam mimpi. Sebagian angin yang masuk melewati celah-celah kusen rumah, mencoba membuat lantai dan suhu di dalam rumah menjadi dingin. Tapi semua itu tidak dapat mengusik kami, dimana badan kami tergeletak di atas matras dan terbungkus rapat oleh kantung tidur.

 

9 Juli 1988, Bagaimana Menaikkan Air….

Pukul 06.00 saya bangun dan langsung menyiapkan alat penelusuran gua pribadi. Disamping itu saya menyiapkan 2 buah pelampung dan 1 rol tali statik. Rencananya hari ini saya dan  To’ing akan mencoba menelusuri Sump di ujung sungai bawah tanah Luweng Jenggung.

Selesai sarapan, pukul 08.00 kami berangkat. Yang pergi adalah saya, Erry, tr 046/86, Gito, tr 020/87, Victor, tr 029/87, Ferry, tr 019/87, To’ing dan Eryono. Langsung saja setelah masuk, kami menuju Gourdam, untuk mengambil beberapa gambar foto dengan film slide, tidak lupa pula mengambil gambar foto Lion’s tail (catatan redaksi: tahun 1988 belum ada kamera digital).

Setelah itu kami masuk sungai bawah tanah dan langsung menuju Sump. Di sana, saya dan To’ing memasang pelampung ke tubuh, sementara Ferry melepas gulungan tali. Dengan tubuh terhubung tali, lalu kami berdua turun ke Sump, dengan To’ing di depan, saya di belakang. Ferry nge-belay dari pinggir Sump. Saya dan To’ing moving together (bergerak di satu tali). Tetapi tidak sampai 15 meter, Sump tersebut mentok, hanya bisa diteruskan apabila kita melakukan Cave Diving. Dengan badan yang menggigil kedinginan kami berdua keluar dari Sump.

Dalam hati saya, terbetik suatu pikiran, mengapa air yang melimpah ini tidak dicoba untuk ditarik ke atas. Mereka, penduduk di atas, saling berebut untuk mendapatkan air, sedangkan di bawah sini banyak air. Satu hal yang mungkin bisa menjadi alasannya adalah, bahwa penduduk di sini masih memegang kepercayaan, sehingga tak satu pendudukpun yang pernah masuk ke Luweng Jenggung ini. Saya yakin, kalau menggunakan pompa listrik, air tersebut bisa ditarik ke atas, tentunya pompa dengan jenis jet pump. Tapi, yang menjadi masalah lagi, dusun ini belum tersentuh apa yang disebut listrik (catatan redaksi: tahun 1988 listrik PLN belum masuk Dusun Petung). Kalaupun memakai generator listrik, siapa nanti yang akan bisa merawatnya. Pikiran ini akan saya bicarakan dengan anak-anak Trupala lainnya, mudah-mudahan mereka punya ide yang lebih cemerlang untuk menaikkan air dari gua ini.

Selesai membereskan peralatan, kami kembali naik untuk keluar. Badan masih terasa dingin terbungkus Coverall yang basah (baju model bengkel dari bahan parasit yang menutupi tubuh seluruhnya). Masuk gua dengan To’ing dari HIKESPI, ada manfaatnya juga, selain dia bisa cerita pengalaman-pengalamannya selama memasuki banyak gua-gua di Indonesia, juga sedikitnya dia menurunkan ilmu Speleologi yang belum pernah kami dapat.

Pukul 12.00 kami semua sudah berada kembali di MCK. Sedikit membersihkan badan, setengah jam kemudian kami sudah kembali ke Base Camp induk. Saya temukan di sana Rachmat, tr 032/86, sedang menyiapkan peralatan yang akan dipakai untuk menuruni Luweng Ombo. Saya mencoba memeriksa sebentar kondisi peralatan, sebelum istirahat.

Empat jam istirahat, saya lalu mengumpulkan tim pemetaan untuk membicarakan bagaimana metode pemetaan yang akan dipakai di Luweng Ombo nanti. Dari hasil diskusi, diambil kesimpulan, titik tempat tali turun ke Luweng Ombo akan diambil sebagai titik awal pemetaan, lalu mengelilingi seluruh pinggiran lubang dasar Luweng Ombo. Hal ini dipakai, karena kami juga mencoba memetakan mulut gua Luweng Ombo di atas dengan titik awal yang sama, yaitu di anchor tali di mulut gua, sehingga begitu digambar nanti, akan terdapat kesamaan titik awal.

Selesai diskusi metode pemetaan, tim saya mempersiapkan peralatan pribadi mereka, dan juga barang-barang lainnya yang akan dibawa ke Luweng Ombo, lalu makan malam. Saya mencoba meminjam jam tangannya Victor, yang saya perhatikan ternyata waterproof, bahkan untuk kedalaman 50 meter. Jam ini saya butuhkan untuk membantu saya mencatat timestamp di buku harian saya nanti saat masuk Luweng Ombo. Sementara itu Leonard, tr 081/84 — yang ikut membidani Divisi Penelusuran Gua Trupala tiga tahun lalu —  datang dari Yogyakarta, kota tempat dia kuliah Universitas sekarang.

Membayangkan bahwa malam ini akan menuju Luweng Ombo, membuat adrenalin saya terpompa….

 

(bersambung ke bagian 7)

About indrajabrix

Pehobi sejarah dan jalan-jalan

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: