PROFIL ORGANISASI

Taruna Pecinta Alam ( TRUPALA) didirikan pada tanggal 18 Maret 1975 oleh 15 siswa-siswa SMAN 6 Jakarta, Jl. Mahakam, Kebayoran Baru, Jakarta, yang dilakukan di gunung Gede, Jawa Barat. Pada perjalanan di tahun 1997 Nama Trupala SMAN 6 berubah menjadi TRUPALA Jakarta dibawah naungan yayasan Alam Bebas.

Kegiatan yang mendasar dari TRUPALA adalah untuk mengenal lebih dekat dengan alam. TRUPALA memilik 4 divisi utama yaitu Divisi Gunung Hutan (Jungle Cruiser), Divisi Penjelajahan Goa (Caving), Divisi Pemanjat Tebing (Rock Climbing) dan Divisi Olah Raga Arus Deras (Rafting dan kayaking).

Anggota TRUPALA hingga tahun 2012 berjumlah 2118 anggota. Tiap tahun terjadi perekrutan atas anggotanya. Dalam melakukan perekrutan, TRUPALA melakukan pendidikan dan latihan gunung hutan (Didas) yang dilakukan di gunung Salak dengan menggunakan kurikulum pendidikan gunung hutan sehingga pendidikan dan latihan gunung hutan yang diberikan kepada calon anggotanya terarah. Puncak Salak I dan II merupakan arena “bermain” dan pelatihan bagi siswa siswi Didas dan juga anggota TRUPALA, bahkan para anggota TRUPALA berhasil membuat jalur sendiri. Materi utama Didas adalah pengenal hutan serta dibekali dengan survival yang mana seorang pencinta alam diwajibkan untuk paham hal satu ini.

TRUPALA sendiri dalam pengembangan ilmu kepencintaalaman tidak luput dari bimbingan para senior yang telah berpengalaman dengan beragam ilmu dan pengalaman tingkat internasional yang bertugas memberikan pengetahuan tentang kegiatan alam terbuka secara baik dan benar.

Kegiatan rutin yang dilakukan TRUPALA selain mendaki gunung dan menempuh rimba adalah mengadakan kegiatan yang sifatnya fun yaitu Sepeda Ria, Jambore, Wisuda TRUPALA dan kegiatan perkemahan lainnya.

Berbagai kegiatan dan prestasi telah dicapai oleh anggota-anggota TRUPALA dengan melakukan kegiatan yang sangat dekat dengan kepedulian kepada alam dan juga kepedulian terhadap sesama serta juga kegiatan yang dapat mengharumkan nama organisasi maupun Indonesia. Kegiatan pendakian tidak saja dilakukan di gunung-gunung di dalam negeri, sebut saja Semeru, Rinjani, Kerinci dan lain sebagainya, namun juga berpengalaman dengan gunung-gunung di luar negeri seperti di pegunungan Himalaya dan juga Alaska juga pernah dijelajahi oleh para anggota TRUPALA. Prestasi puncak pernah dialami TRUPALA saat mendaki pegunungan Himalaya yaitu puncak MAKALU 2 tahun 1990 di yang mana salah satu anggota termuda berhasil mencapai puncak tertinggi untuk pendaki Indonesia saat itu

Selain prestasi pendakian gunung, berbagai ekspedisi juga dilakukan. Salah satunya ekspedisi Luweng Ombo di Pacitan Jawa Timur pada tahun 1988 dimana TRUPALA merupakan pencinta alam tingkat SMA pertama yang berhasil menuruni gua vertikal setinggi kurang lebih 120 m. Serta Ekspedisi Gunung Hutan dengan melakukan pendakian beberapa puncak gunung yang diikuti dengan penelusuran pantai di Jawa Barat. Tak lupa juga pemanjatan tebing dengan melakukan ekspedisi pemanjatan gunung Parang.

Selain prestasi-prestasi diatas, TRUPALA tidaklah lupa untuk melakukan aksi kemanusiaan. Para anggota TRUPALA akan merasa terpanggil jiwanya bila mengetahui terjadi bencana yang segera memerlukan pertolongan. Sebut saja musibah hilangnya siswa STM Pembangunan di tahun 1987 di gunung Salak, merupakan aksi sosial yang dilakukan juga oleh TRUPALA dimana dalam kegiatan tersebut salah satu anggota TRUPALA berhasil menemukan mayat korban pertama kali di lembah sungai Cihideung. Tsunami di Aceh yang menewaskan sekitar lebih dari 100.000 ribu orang juga merupakan bentuk aksi solidaritas TRUPALA terhadap terjadinya bencana alam dengan menerjunkan tim SAR (Search and Rescue) yang telah berpengalaman langsung pada awal-awal terjadi bencana. Tak lepas juga bencana di Padang, gempa bumi di Jogja dan meletusnya gunung Merapi juga merupakan panggilan hati bagi para anggota TRUPALA untuk bergerak dan melakukan pencarian dan pertolongan kepada korban. Tragedi Sukhoi yang terjadi pada 9 Mei 2012 juga merupakan aksi yang menggerakan anggota TRUPALA dengan ikut berperan aktif mencari korban dan salah satu anggota TRUPALA yang terlibat yaitu Ibnu Aulia Sina merupakan orang pertama yang turun di kemiringan lebih dari 85 derajat di tebing gunung Salak 1 untuk menemukan korban Sukhoi pertama kali bersama dengan tim Marinir dan Posko Merah Putih.

“KAMI DI TEMPA UNTUK BERANI HIDUP, BUKAN UNTUK BERANI MATI”

Discussion

No comments yet.

Tuliskan komentar Anda disini , berikan identitas Anda (nama) dan No anggota Tr (bila Anggota)

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: